DIALOG SASTRA, FILSAFAT, DAN KEBUDAYAAN
RUMUSAN HASIL DIALOG SASTRA, FILSAFAT, DAN KEBUDAYAAN
Dialog Sastra, Filsafat, dan Kebudayaan diselenggarakan dalam rangka kegiatan Sanur Village Festival IV-2009 atas dukungan Pemerintah Kota Denpasar. Dialog dilaksanakan sebagai media diskusi holistic tentang aspek-aspek humaniora, dimensi batiniah dan lahiriah budaya ekspresivisme dan progresivisme untuk mendalami secara lebih esensial terkait roh, spirit dan makna kreativitas dalam kehidupan. Dialog sehari ini berlangsung di bawah tema “Humanisme dan Etos Kreativitasâ€, diikuti oleh 50 orang sastrawan, seniman, intelektual, dan kemunitas kreatif. Dialog dibuka oleh Walikota yang diwakili oleh Ketua Yayasan Pembangunan Sanur (YPS) pada hari Jumat 14 Agustus 2009 dengan mengambil tempat di Hotel Puri Santrian Sanur.
Dialog Sastra, Filsafat, dan Kebudayaan Tahun 2009 ini membahas satu makalah kunci (keynote) dan tiga makalah utama secara panel sebagai berikut.
1.Makalah Kunci (Keynote)
“Estetika dan Kreativitas Berkelanjutanâ€
Oleh Drs. I Gede Ardika
2.Makalah Panel 1
“Filsafat Siwa Sidhanta dan Kreativitasâ€
Oleh Prof. Drs. I Ketut Subagiasta, D. Phil, M.Si.
3.Makalah Panel 2
“Filsafat Humanisme dalam Karya Sastra Ida Padanda Made Sidemenâ€
Oleh Drs. Ida Bagus Gde Agastia
4.Makalah Panel 3
“Konsep Taksu dalam Berkesenian dan Berkreativitasâ€
Oleh Prof. Dr. I Wayan Dibia, M.A.
Melalui dialog yang cukup kritis secara lintas disiplin, lintas budaya dan multi perspektif dihasilkan simpulan reflektif dan sejumlah rekomendasi sebagai berikut.
Simpulan:
1.Kreativitas adalah transformasi proses dinamis dan terintegrasi secara inovatif untuk menghasilkan sesuatu penemuan baru, suatu upaya mencari, membangkitkan asas-asas otonomi atas asas sendiri untuk mandiri, dinamis dan mampu menuntun modernisasi agar kita maju berlandaskan nilai-nilai, identitas sendiri. Kreativitas merupakan konsep kunci yang melekat dalam bidang sastra, filsafat, dan kebudayaan. Adagium Rwa Bhineda telah mengacu spirit kreativitas bergerak ke arah dua jalur, jalur konstruktif dan jalur dekonstruktif. Jalur pertama, seharusnya (secara ideal) mampu menguasai jalur kedua. Dalam realita empiris, jalur pertama bisa jadi paradoks terhadap jalur kedua, atau jalur kedua justru menguasai jalur pertama. Kondisi pembalikan dan paradoksial berkembang menjadi sumber aneka masalah negatif dalam kehidupan: dari komodifikasi, sekularisasi, hegemoni, distorsi sampai dehumanisasi.
2.Pada hakikatnya sastra, filsafat, dan kebudayaan adalah esensi kehidupan dan esensi dari kreativitas berkelanjutan. Melalui pendekatan sastra, filsafat, dan kebudayaan kita yang sedang menunjukkan jalan ke dalam, ke intangible, ke roh, ke dasar dan spirit untuk berkarya, beraktivitas, dan berkreativitas.
3.Kreatif sangat berkaitan dengan ranah pemikiran, dengan taksu, kemampuan local genious (cerlang budaya), akal budi, proses berkelanjutan di tengah energi dan tantangan. Sangat perlu mewaspadai dan merespon beragam deviasi terkait dengan fenomena kebudayaan seperti individualisasi, hegemoni, kerakusan, gaya hidup hedonis, instanitas sebagai refleksi kerapuhan nilai.
4.Muncul kesadaran bahwa Bali sedang dalam perubahan yakni dari budaya fisik ke budaya spirit untuk mampu secara lebih dalam membangkitkan daya cipta yang lebih unggul.
5.Diperlukan jembatan baru yang mampu memediasi perubahan dari budaya fisik ke budaya spirit, entah melalui individu, kelompok ataupun dalam bentuk lembaga dan kebijakan.
6.Filsafat Siwa Sidhanta memberikan spirit mulia dan suci kepada umat manusia untuk melakukan aktivitas dan kreativitas bagi umat Hindu mampu menjadikan para insan sejati di bumi ini semakin kreatif dalam memikirkan, mewacanakan, dan melaksanakan berbagai kegiatan hidup dan kehidupan, baik secara bersama-sama maupun secara individual. Banyak nilai filosofi dan nilai sosiologis yang bias dijadikan tuntunan, petunjuk, sasuluh, pelita hidup, dan sebagai motivasi dalam melakoni hidup dan kehidupan dalam bermasyarakat. Filsafat Siwa Sidhanta sangat kaya dengan ajaran spiritual yang dapat dijadikan pembangkit semangat hidup bagi umat manusia.
7.Filsafat antropos menunjukkan bahwa kehadiran hidup manusia secara hakiki disimpulkan dua katagori jendela kreativitas: jendela ke dalam, agar tetap menoleh ke arah hati nurani, etika, estetika, spiritualita, dan roh kehidupan yang menjelaskan budaya ekspresivisme; jendela keluar, agar mampu tumbuh kembang ke ranah ekonomi, teknologi, bahasa yang mengembangkan budaya propesivisme. Politik kebudayaan dan strategi kebudayaan harus mampu menumbuhkan, mengelola, dan mengontrol agar keseimbangan ekspresif dan progresif tidak timpang, tidak mandeg, dan konflik dalam proses involusi, melainkan agar mekar dalam dinamika invensi dan inovasi.
8.Taksu merupakan kekuatan dalam (inner power), kekuatan spiritual (spiritual power) atau kekuatan gaib (magical power) yang menjadi jiwa dan roh seni budaya Bali yang sangat dibutuhkan dalam semua bidang profesi dan sangat menentukan keberhasilan karya cipta masyarakat Hindu Bali.
9.Implikasi akibat dari pergeseran orientasi nilai kehidupan masyarakat Bali yang cenderung ke arah materialisme mendorong meredupnya kekuatan taksu yang berakibat pada melemahnya nilai-nilai estetik dan religiusitas pada karya-karya cipta. Oleh karena itu, ke depan masyarakat Bali, khususnya para seniman Bali agar mau melakukan pendakian spiritual dalam berkarya sehingga mampu menghasilkan karya-karya yang mataksu.
10.Ida Pedanda Made Sidemen adalah seorang kawi wiku, seorang Padanda dan seniman yang memiliki kemampuan tinggi dalam menunggalkan aspek religiusitas dan estetika menjadi Parama Purusartha, tujuan tertinggi atau Kebenaran, Pengetahuan Tertinggi, dan Kebahagiaan Tertinggi (Sat Cit Anandam). Konsep-konsep penting dari Ida Padanda Made Sidemen seperti mayasa lacur, guna dusun, walatanda, dan lain-lain merupakan sumber inspirasi dalam membentuk kemandirian dan kreativitas pembebasan.
Sanur, 14 Agustus 2009